🔊 *MATERI 10 : SYIRIK KECIL PADA UCAPAN DAN PERBEDAAN SYIRIK BESAR DAN SYIRIK KECIL*
📆 Jum'at, 30 Jumadil Akhir 1445 H/12 Januari 2024 M
👤 Ustadz Muhammad Wasitho, Lc., M.A.
📗 Aqidah : Modul 03
🌐https://madeenah.bimbinganislam.com/
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
_MADEENAH..._
_Belajar Islam dasar, dengan pemahaman yang benar_
بسم الله الرحمن الرحيم
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله رب العالمين الذي أنزل شريعة الإسلام هُدًى لِلنَّاسِ ورحمة للعالمين أما بعد
Ikhwaniy wa Akhawatiy Fillaah , para santri dan santriwati Madeenah (Madrasah Diniyyah) yang semoga dirahmati dan diberkahi Allah Subhanahu wa Ta'ala .
Contoh yang kedua di antara contoh شرك الأصغر atau syirik kecil yaitu ucapan seorang hamba مَا شَاءَ اللَّهُ وَشِئْتَ artinya apa? Ini terjadi berkat kehendak Allah dan kehendak engkau . Ini juga termasuk ucapan yang tergolong شرك الأصغر (syirik kecil).
Dalilnya adalah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dalam kitab Sunnannya, dari Nabi shallallahu 'alayhi wa sallam .
Beliau bersabda,
لاَ تَقُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ
"Janganlah kalian mengucapkan ini semua terjadi berkat kehendak Allah dan kehendak si Fulan.
وَلَكِنْ قُولُوا مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ
Tetapi ucapkanlah مَا شَاءَ اللَّهُ tsuma (ثُمَّ)."
Ada kata ثُمَّ (tsuma) bukan wa (و).
Ini terjadi berkat kehendak Allah kemudian kehendak di Fulan.
Ini supaya selamat dari syirik ashghar.
Karena kalau ucapan yang pertama مَا شَاءَ اللَّهُ وَشَاءَ فُلاَنٌ itu maknanya adalah menyamakan kehendak makhluk dengan kehendak Allah . Menyejajarkan makhluk dengan Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Sedangkan kalimat yang kedua مَا شَاءَ اللَّهُ ثُمَّ شَاءَ فُلاَنٌ ini tidak ada unsur menyamaan kehendak makhluk dengan kehendak Allah . Sehingga selamat dari syirik Ashghar.
Kemudian di antara contoh syirik Ashghar adalah ucapan seorang hamba,
لولا الله وفلان
"Seandainya tidak ada Allah dan tidak ada si Fulan, kamu akan celaka, kamu akan binasa, kamu akan mati."
Atau ucapan seseorang, "Kalau tidak ada anjing di halaman rumah, niscaya rumahmu akan kecopetan". Seandainya tidak ada anjing ini, atau tidak ada kucing ini atau tidak ada binatang ini, niscaya rumahmu akan didatangi oleh maling atau perampok.
Ini termasuk syirik Ashghar, ucapan semacam itu sering kita dengar dari sebagian kaum muslimin yang jauh dari bimbingan aqidah Tauhid, tidak mengenal majelis-majelis ta'lim apalagi majelis Aqidah.
Dalil yang menunjukkan bahwa ucapan tersebut termasuk syirik Ashghar sebagaimana riwayat Ibnu Abi Hatim dalam kitab tafsirnya dari Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma ketika menjelaskan makna firman Allah Ta'ala,
فَلَا تَجْعَلُوا لِلَّهِ أَنْدَادًا وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ {البقرة: ٢٢}
"Maka janganlah kalian menjadikan untuk Allah Tuhan-Tuhan tandingan sedangkan kalian mengetahuinya." (QS. Al-Baqarah: 22)
Di sini kata Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma الأنداد (Tuhan-Tuhan tandingan) adalah kesyirikan yang lebih samar, syirik yang lebih lembut daripada semut yang berjalan di atas batu hitam di tengah malam yang gelap gulita .
Yaitu engkau mengucapkan,
والله وحياتك يا فلانة وحياتي
"Demi Allah dan demi kehidupanmu wahai si Fulanah dan demi kehidupanku."
Seseorang bersumpah dengan nama Allah dan demi kehidupannya.
Demi Allah dan demi kehidupanmu wahai Fulanah, mungkin orang (wanita) yang dicintainya atau istrinya. Demi Allah dan demi kehidupanmu dan kehidupanku.
Atau engkau mengatakan,
لولا كليبة هذا لأتانا اللصوص
"Seandainya tidak ada anjing ini, niscaya kita akan kemalingan atau didatangi pencuri atau perampok."
Dan juga seperti kata Ibu Abbas ucapan seseorang kepada kawan-kawannya,
ما شاء الله وشئت
"Ini semua terjadi karena kehendak Allah dan karena kehendak engkau."
Atau juga ucapan seseorang,
لولا الله وفلان
"Kalau tidak ada Allah dan tidak ada si Fulan maka terjadi ini dan itu."
Kata Ibnu Abbas,
لا تجعل فيها فلانا
"Jangan engkau jadikan dalam kejadian tersebut dengan menyebutkan si Fulan."
Menyertakan kehendak si Fulan bersama kehendak Allah, karena ini semua syirik, kata Ibnu Abbas Radhiyallahu 'anhuma . Dan betapa banyak ucapan-ucapan semacam itu yang terjadi di tengah sebagian kaum muslimin.
Kemudian kita lanjutkan dengan pembahasan tentang Perbedaan Antara Syirik Akbar Dan Syirik Ashghar
Di antara perbedaannya;
⑴ Dosa syirik akbar tidak akan diampuni oleh Allah bagi pelakunya kecuali dengan taubat nasuha sebelum meninggal dunia .
Bertaubat kepada Allah!
Adapun syirik Ashghar (syirik kecil) maka nasibnya berada di bawah kehendak Allah, terserah kepada Allah . Jika Allah berkehendak mau mengampuni dan memaafkannya, maka ia pun diampuni dan dimaafkan oleh Allah. Selamat dari adzab Neraka.
Namun jika Allah berkehendak tidak mengampuninya maka ia pun pasti diadzab oleh Allah di dalam api Neraka, tetapi sesuai dengan kadar dosa dan tidak kekal abadi. Kenapa? Karena masih ada iman di dalam hatinya.
Perbedaan yang kedua,
⑵ Syirik Akbar akan membatalkan seluruh pahala amal ibadah yang ia kerjakan sepanjang hidupnya . Shalatnya, puasanya, hajinya, umrahnya, sedekahnya, bacaan Al-Qur'annya, dan yang lainnya semua terhapus dan runtuh.
Menjadikan pelakunya musyrik kafir (مشرك كافر بالله) musyrik yang kafir kepada Allah.
Sedangkan syirik Ashghar (syirik kecil) hanya membatalkan amalan yang dikerjakan dan disertai dengan syirik kecil dengan riya', dengan sum'ah dan yang lainnya. Jadi tidak terhapus semuanya.
Perbedaan yang ketiga,
⑶ Syirik Akbar mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, sedangkan syirik kecil atau syirik Ashghar tidak mengeluarkan pelakunya dari agama Islam, dia masih muslim tetapi Fasik .
Muslim yang Fasik atau sebagian ulama Ahlus Sunnah menamainya dengan مؤمن ناقص الإيمان (orang mukmin yang tidak sempurna imannya).
Perbedaan yang keempat,
⑷ Syirik Akbar menyebabkan pelakunya masuk Neraka secara kekal abadi dan haram baginya masuk Surga. Sedangkan syirik Ashghar maka hukumnya sama seperti para pelaku dosa besar selain syirik Akbar. Dia berada di bawah kehendak Allah .
Kalau Allah memaafkan dan mengampuninya maka ia pun diselamatkan dari Neraka, lalu langsung masuk ke dalam Surga karena dosanya sudah diampuni oleh Allah.
Tapi kalau Allah berkehendak untuk tidak memaafkan dan tidak mengampuninya, maka ia pun dimasukan oleh Allah ke dalam Neraka untuk diadzab, disiksa sesuai dengan kadar dosanya. Setelah bersih dosanya lalu dia pun dimasukkan ke dalam Surga sebagai tempat tinggal yang hakiki dan abadi.
Demikian pelajaran kita pada pertemuan kali ini semoga mudah dipahami dengan baik dan benar dan menjadi tambahan ilmu yang bermanfaat, ilmu yang akan mengantarkan kita kepada keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
•┈┈┈•⊰✿✿⊱•┈┈┈•
Tidak ada komentar:
Posting Komentar