Contohnya adalah amalan para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang pahala amal mereka lebih besar daripada amal yang kita lakukan, padahal amal kita lebih banyak dan lebih besar secara dzahir. Dimisalkan emas sebesar gunung Uhud yang kita infakkan, tidak bisa menyamai pahala satu mud bahkan setengah mud emas yang para sahabat infakkan.
Rasulullahu shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
”Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian berinfaq emas seperti Gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud (infaq) salah seorang dari mereka dan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Oleh karena itu, yang dinilai oleh Allah bukanlah banyaknya amal semata, tetapi siapa yang paling baik amalnya yaitu paling ikhlas dan paling baik dalam menunaikannya.
— Ustaz dr. Raehanul Bahraen hafizahullah.
===================
Dukung Bimbingan Islam dengan Follow Semua Akun Official Kami:
Instagram: @bimbingan_islam
Facebook: Bimbingan Islam
Twitter: bimbingan_islam
Telegram: https://t.me/tausiyahbimbinganislam
YouTube: BiASTV
Tidak ada komentar:
Posting Komentar